Kain Buton Sebagai Identitas
Secara administrasi
pemerintahan, masyarakat Buton kini boleh tercerai berai menyusul
terbentuknya kabupaten- kabupaten baru dalam rangka pemekaran Kabupaten
Buton yang wilayahnya mencakup hampir semua daerah kesultanan di masa
lampau.
Namun, secara kultural mereka masih akrab dengan
nilai-nilai budaya yang telah menjadi ciri khas dan menjadi perekat
hubungan sosial sejak lama.
Salah satu perekat sosial itu adalah
kain tenun tradisional. Tenunan Buton tampak bersahaja tetapi spesifik.
Masyarakat Buton dari semua strata bangga menggunakan kain tenun
bercorak daerahnya, di mana pun ia berada.
Hampir semua wanita
Buton sejak dulu dikenal mahir menenun. Istri-istri para sultan pun
pandai menenun. Tak heran jika dalam berbusana pun mencerminkan strata
atau status sosial dalam masyarakat karena kain tenunan Buton merupakan
tanda pengenal status sosial dalam masyarakat Buton dari masa lalu
sampai sekarang.
Seorang wanita muda yang sudah berumah tangga
bisa dilihat dari caranya berpakaian. Busana untuk gadis (kalambe) lain
lagi. Gadis orang kebanyakan menggunakan kain biasa dengan motif yang
umum, seperti kasopa. Sedangkan gadis dari golongan bangsawan dengan
gelar Wa Ode harus memakai kain yang didominasi warna perak yang disebut
motif kumbaea. Jadi seseorang siapapun dia jika memakai kain Buton
dengan motif kumbaea pasti adalah seorang bangsawan.
Sebagai
identitas, kain tenunan Buton masih berlaku dan cenderung makin menguat
belakangan ini. Bahkan, produk tenunan itu telah menjadi simbol
pemersatu secara kultural masyarakat Buton, terutama mereka yang hidup
di perantauan.
Di daerah asalnya sendiri, seperti Kota Bau-Bau,
Kabupaten Buton, dan Kabupaten Wakatobi, kain tenun Buton merupakan
bahan pakaian sehari-hari warga setempat.
Harga kain sarung Buton
saat ini paling tinggi Rp 150.000 selembar, namun Jika kain itu nanti
terbuat dari benang sutra harganya bisa Rp 400.000 per lembar.
Para
penenun di Buton menggunakan alat tenun gedokan. Selembar kain dengan
panjang empat meter dan lebar 65 sentimeter dikerjakan sekitar satu
minggu.
Umumnya, kain tenun Buton bercorak garis-garis searah
untuk bahan pakaian wanita dan garis-garis berpotongan untuk pria.
Garis-garis itu sering dipertegas dengan benang emas atau perak.
Ibarat
pelukis, para perajin tenun Buton menganut aliran surealisme. Mereka
membuat motif sebagaimana obyek yang mereka lihat di alam
sekitarnya.kekuatan daya tarik kain tenunan Buton justru pada motifnya
yang sangat kaya itu.
Mengadakan kerja sama dengan desainer dan
peragawati terkenal untuk membuat model pakaian khas Buton itu untuk
memancing minat masyarakat luas di luar komunitas adalah upaya yang
perlu dikembangkan bagi meluasnya pangsa pasar hasil kerajinan rakyat
yang diwarisi turun temurun itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar